BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidik
dan peserta didik merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan Islam.
Kedua komponen ini saling berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk
mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Oleh karena itu, pendidik sangat
berperan besar sekaligus menentukan ke mana arah potensi peserta didik yang
akan dikembangkan. Demikian pula peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek
pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan.
Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif
laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi
peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan
gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian dan Hakikat Pendidik?
2. Apa
Pengertian dan Hakikat Anak Didik?
C. Tujuan
1. Mengetahui
Pengertian dan Hakikat Pendidik.
2. Mengetahui
Pengertian dan Hakikat Anak Didik.
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian
dan Hakikat Pendidik
1. Pengertian
Pendidik
Menurut
Ahmad Tafsir, bahwa pendidik dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab
terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya mengembangkan seluruh potensi
peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun
psikomotorik (karsa). Sedangkan Abdul Mujib mengemukakan bahwa pendidik adalah
bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan
jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan prilakunya yang buruk.[1]
Secara
umum dijelaskan pula oleh Maragustam Siregar, yakni orang yang memberikan ilmu
pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan lain-lain baik di lingkungan
keluarga, masyarakat maupun di sekolah. Di dalam ilmu pendidikan, yang dimaksud
pendidik adalah semua yamg mempengaruhi perkembangan seseorang.[2]
Perkembangan
tersebut meliputi seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif,
kognitif, maupun psikomotorik. Potensi ini sedemikan rupa dikembangkan secara
seimbang sampai mencapai tingkat yang optimal. Sebagai seorang pendidik disini
harus memberikan contoh yangg baik agar anak didiknya dengan mudah meniru apa
yang dilakukan oleh pendidiknya.
Dari
beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidik dalam Islam
adalah orang yang mempunyai tanggung jawab dan mempengaruhi jiwa serta rohani
seseorang yakni dari segi pertumbuhan jasmaniah, pengetahuan, keterampilan,
serta aspek spiritual dalam upaya perkembangan seluruh potensi yang dimiliki
oleh seseorang tersebut sesuai dengan prinsip dan nilai ajaran Islam sehingga
menjadi insan yang berakhlakul karimah.
2. Hakikat
Pendidik
Hakikat
pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah barang tentu dan
menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang
lain demi kemaslahatan ummat. Hakikat pendidik ditegaskan dalam Al-Qur’an surat
Al-Alaq (96) ayat 1-5 yang artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dalam Al-Qur’an
hakikat guru adalah Allah SWT, namun tidak berarti manusia di dunia ini tidak
mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi ini, tugas manusia salah satunya
adalah mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain, dengan kata
lain dia sebagai seorang guru.[3]
Jika
ditinjau secara umum pendidik dalam pendidikan Islam kaitannya lebih luas dari
pada pendidik dalam pendidikan non-Islam, adapun pendidik dalam pendidikan
Islam yaitu:
1. Allah
SWT
2. Nabi
Muhammad SAW
3. Orang
Tua
4. Guru
Seorang
pendidik merupakan manusia pilihan yang bukan hanya memiliki kelebihan ilmu
pengtahuan, melainkan juga memiliki tanggung jawab yang berat dalam melakukan
tugas dan fungsinya sebagai pendidik yang harus menguasai ilmu dalam mengajar
anak didiknya dengan cara yang profesional, sabar dan tertuju pada pencapaian
keberhasilan di dunia dan di akhirat. Seorang pendidik harus memiliki
syarat-syarat sebagai berkut:
a. Beriman
kepada Allah dan beramal shaleh.
b. Menjalankan
ibadah dengan taat.
c. Memiliki
sikap pengabdian yang tinggi pada dunia pendidikan.
d. Ikhlas
dalam menjalankan tugas pendidikan.
e. Profesional
dalam menjalankan tugasnya.
f.
Menguasai ilmu yang
diajarkan kepada anak didiknya.
g. Tegas
dan berwibawa dalam menghadapi masalah yang dialami anak didiknya.
h. Mampu
menggunakan metode mengajar yang bervariasi dan menguasainya dengan baik.
Pendidik
merupakan potensi pedagosis yang mengarahkan perkembangan hidup anak didik. Pendidik
memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan, karena
pendidik adalah pihak yang bersentuhan langsung dengan unsur- unsur yang ada
dalam sebuah aktivitas pendidikan, terutama anak didik. Sebagai wujud dari
kedudukan yang sangat penting tersebut, fungsi pendidik adalah berupaya untuk
mengembangkan segenap potensi anak didiknya, agar memiliki kesiapan dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.[4]
Seorang
pendidik harus bisa menguasai situasi dan kondisi agar tidak jenuh dalam
berlangsungnya proses pendidikan, maka dari itu ada beberapa hal yang harus
diperhatikan. Antara lain:
a. Selalu
berbicara dengan bahasa yang santun.
b. Selalu
mendengarkan pendapat anak didiknya.
c. Mengarahkan
dan mengembangkan minat dan bakat anak didiknya.
d. Berpakaian
rapi dan sopan.
e. Selalu
datang tepat waktu.
f.
Memberikan pelajaran
dengan metode yang tepat.
g. Senantiasa
memberikan peluang dan kesempatan kepada anak didiknya untuk bertanya.
h. Sabar
dalam menghadapi kenakalan anak didiknya.
i.
Memahami perkembangan
mental dan emosional anak didiknya, membimbing, mengarahkan dan memotivasi anak
didiknya.
j.
Menciptakan situasi untuk
pendidikan. Situasi pendidikan yaitu suatu keadaan dimana tindakan-tindakan
pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
Adapun
peran pendidik dalam menyikapi tantangan globalisasi adalah berusaha secara
sadar untuk membimbing, mengajar, dan melatih siswa agar dapat:
a. Meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan
keluarga.
b. Menangkal
dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan paham atau budaya lain yang
membahayakan dan menghambat perkembangan pola pikir dan keyakinan siswa.
c. Memperkenalkan
secara transparan contoh positif dan negatif dari pengaruh iptek kepada anak.
d. Pendidik
selalu mengontrol kepada anak didik dan sekaligus sebagai agent of change dalam
menggunakan iptek.
e. Menyalurkan
bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara
optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula
bermanfaat bagi orang lain.
- Pengertian
dan Hakikat Anak Didik
1. Pengertian
Anak Didik
Anak
didik atau peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki
sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan. Peserta didik
merupakan “Raw Material” (Bahan Mentah) dalam proses transformasi dan
internalisasi, menepati posisi yang sangat penting untuk melihat signifikasinya
dalam menemukan keberhasilan sebuah proses. Peserta didik adalah makhluk
individu yang mempunyai kepribadian dengan ciri-ciri yang khas yang sesuai
dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan peserta
didik dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Peserta didik adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik sebagai komponen yang tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan
sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik merupakan obyek pendidikan
tersebut.[5]
Dalam
paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan
memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Jadi
secara sederhana peserta didik dapat didefinisikan sebagai individu yang belum
memiliki kedewasaan dan memerlukan orang lain untuk mendidiknya sehingga
menjadi individu yang dewasa, memiliki jiwa spiritual, aktifitas dan
kreatifitas sendiri. Dengan demikian peserta didik adalah individu yang
memiliki potensi untuk berkembang, dan mereka berusaha mengembangkan potensinya
itu melalui proses pendidikan pada jalur dan jenis pendidikan tertentu.
2. Hakikat
Anak Didik
Anak
didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan, tanpanya
proses pendidikan tidak akan terlaksana. Anak didik merupakan subjek dan objek
pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu
mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya
menuju kedewasaan. Karena seorang anak didik yang ingin mendapatkan ilmu itu
memerlukan bimbingan, pengarahan, dan petunjuk dari orang lain (seorang
pendidik), maka muncul pula etika pergaulan yang baik yang harus dilakukan oleh
seorang anak didik kepada pendidiknya.
Potensi
merupakan kemampuan dasar yang dimiliki anak didik, dan tidak akan tumbuh atau
berkembang secara optimal tanpa bimbingan pendidik. Dalam memahami hakikat anak
didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum anak
didik, yaitu:
a. Anak
didik dalam keadaan sedang berdaya (eksploratif), yaitu berdaya untuk
menggunakan kemampuan, kemauan dan sebagainya.
b. Mempunyai
keinginan untuk berkembang kea rah dewasa.
c. Anak
didik mempunyai latar belakang yang berbeda.
d. Anak
didik melakukan penjelajahan terhadap lingkungan terhadap alam sekitarnya
dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu. (Abdurrahman
Shaleh, 1981:86).
Asma
Hsan Fahmi menyebutkan empat akhlak yang harus dimiliki anak didik, yaitu;
1. Seorang
anak didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa yang
sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah merupakan ibadah yang tidah sah
dikerjakan kecuali dengan hati yang bersih. Kebersihan hati tersebut dapat
dilakukan dengan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela, seperti dengki,
benci, hassut, takabbur, menipu, berbangga-bangga, dan memuji diri yang
selanjutnya diikiuti dengan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia seperti
bersikap benar, taqwa, ikhlas zuhud, merendahkan diri dan ridha.
2. Seorang
anak didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa
dengan dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri kepada tuahn, dan bukan untuk
mencari kemegahan dan kedudukan.
3. Seorang
pelajar harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan bersedia pergi
merantau. Selanjutnya apabila ia menghendaki pergi ke tempat yang jauh untuk
memperoleh seorang guru, maka ia tidak boleh ragu-ragu untuk itu. Demikian pula
ia dinasihatkan agar tidak sering menukar-nukar guru. Jika keadan menghendaki
sebaiknya ia dapat menanti sampai dua bulan sebelum menukar seorang guru.
4. Seorang
pelajar wajib menghoramati guru dan berusaha agar senantiasa memperoleh
kerelaan dari guru, dengan mempergunakan bermacam-macam cara.
Sejalan
dengan tujuan pendidikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka
belajar termasuk ibadah. Dengan dasar pemikiran ini, maka Imam Al-Ghozali
menyatakan bahwa seorang murid yang baik, adalah murid yang memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
a. Seorang
murid harus berjiwa bersih, terhindar dari budi pekerti yang hina dan
sifat-sifat yang tercela lainnya.
b. Seorang
murid yang baik, juga harus menjauhkan diri dari persoalan-persoalan duniawi,
mengurangi keterkaitan dengan dunia, karena keterkaitan kepada dunia dan
masalah-masalahnya dapat mengganggu lancarnya pengusaan ilmu.
c. Seorang
murid yang baik hendaknya bersikap rendah hati dan tawadhu. Sikapini begitu
ditekankan oleh Al-Ghozali.
d. Khusus
terhadap murid yang baru hendaknya jangan mempelajari ilmu-ilmu yang saling
berlawanan, atau pendapat yang saling berlawanan atau bertentangan.
e. Seorang
murid yang baik hendaknya mendahulukan mempelajari yang wajib. Pengetahuan yang
menyangkut berbagai segi (aspek) lebih baik daripada pengetahuan yang
menyangkut hanya satu segi saja.
f.
Seorang murid yang baik
hendaknya mempelajari ilmu secara bertahap. Seorang murid dinasehatkan agar
tidak mendalamiilmu secara sekaligus, tetapi memulai dariilmu-ilmu agama dan
menguasainya dengan sempurna.
g. Seorang
murid hendaknya tidak mempelajari satu disiplin ilmu sebelum mengusai disiplin
ilmu sebelumnya.
h. Seorang
murid hendaknya juga mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajarinya. Kelebihan
dari masing-masing ilmu serta hhasil-hasilnya yang mungkin dicapai hendaknya
dipelajarinya dengan baik.
Beberapa
hal yang perlu dipahami mengenai karakteristik peserta didik adalah:
1. Peserta
didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode
belajar mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan orang dewasa. Orang dewasa
tidak patut mengeksploitasi dunia peserta didik, dengan mematuhi segala aturan
dan keinginannya, sehingga peserta didik kehilangan dunianya.
2. Peserta
didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal
mungkin. Terdapat lima hierarki kebutuhan yang dikelompokkan dalam dua
kategori, yaitu: pertama, kebutuhan-kebutuhan tahap dasar (basic needs) yang
meliputi kebutuhan fisik, rasa aman dan terjamin, cinta dan ikut memiliki
(sosial), dan harga diri; kedua,
metakebutuhan-metakebutuhan (meta needs), meliputi apa saja yang
terkandung dalam aktualisasi diri, seperti keadilan, kebaikan, keindahan,
keteraturan, kesatuan, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, masih ada
kebutuhan lan yang tidak terjangkau kelima hierarki kebutuhan itu, yaitu
kebutuhan akan transendensi kepada Tuhan. Individu yang melakukan ibadah
sesungguhnya tidak dapat dijelaskan dengan kelima hierarki kebutuhan tersebut,
sebab akhir dari aktivitasnya hanyalah keikhlasan dan ridha dari Allah SWT.
3. Peserta
didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik
perbedaan yang disebabkan dari factor endogen (fitrah) maupun eksogen
(lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat, dan
lingkungan yang mempengaruhinya. Pesrta didik dipandang sebagai kesatuan sistem
manusia. Sesuai dengan hakikat manusia, peserta didik sebagai
makhlukmonopluralis, maka pribadi peserta didik walaupun terdiri dari dari
banyak segi, merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan karsa).
4. Peserta
didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan
dapat aktif, kreatif, serta produktif. Setiap peserta didik memiliki aktivitas
sendiri (swadaya) dan kreatifitas sendiri (daya cipta), sehingga dalam
pendidikan tidak hanya memandang anak sebagai objek pasif yang bisanya hanya
menerima, mendengarkan saja.
5. Peserta
didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dalam mempunyai pola
perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah
bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola dan tempo, serta
irama perkembangan peseta didik. Kadar kemampuan peserta didik sangat
ditentukan oleh usia dan priode perkembangannya, karena usia itu bisa
menentukan tingkat pengetahuan, intelektual, emosi, bakat, minat peserta didik,
baik dilihat dari dimensi biologis, psikologis, maupun dedaktis.
Sifat-sifat
ideal yang patut dimiliki peserta didik yaitu:
1. Belajar
dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Mempunyai ahklak yang baik
dan meninggalkan yang buruk.
2. Mengurangi
kecendrungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi dan sebaliknya.
3. Bersifat
tawadhu’ (rendah hati).
4. Menjaga
pikiran dari berbagai pertentangan dan aliran.
5. Mempelajari
ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum dan agama.
6. Belajar
secara bertahap atau berjenjang dengan melalui pelajaran yang mudah menuju
pelajaran yang lebih sulit.
7. Mempelajari
ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih kepada ilmu yang lainnya.
8. Memahami
nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari
9. Memprioritaskan
ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
Dari
penjelasan-penjelasan diatas menerangkan bahwa pada hakikatnya anak didik
merupakan komponen penting dalam pendidikan, karena selain menjadi objek, anak
didik juga merupakan subjek dalam pendidikan. Oleh sebab itu proses pembelajaran
atau pendidikan tidak akan terlaksana tanpa adanya anak didik. Dan merupakan
keharusan untuk memahami sifat dan karakter anak didik supaya dalam proses
pendidikan akan berjalan sesuai harapan dan dapat tercapainya tujuan dari
pendidikan yang diinginkan.
BAB
III
PENUTUP
- Kesimpulan
1. Pendidik
merupakan seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tertentu dan mengajarkannya
kepada orang lain atau anak didik, dan juga merupakan orang yang mempunyai
tanggung jawab dan mempengaruhi jiwa serta rohani seseorang yakni dari segi
pertumbuhan jasmaniah, pengetahuan, keterampilan, serta aspek spiritual dalam
upaya perkembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh seseorang tersebut sesuai
dengan prinsip dan nilai ajaran Islam sehingga menjadi insan yang berakhlakul
karimah.
2. Anak
didik merupakan salah satu unsur terpenting bagi terlaksananya kegiatan
pendidikan. Sebab ia merupakan obyek dan sekaligus subyek serta mitra pendidikan,
sehingga sehebat dan selengkap apapun unsur-unsur lainnya, jika anak didik
tidak ada atau tidak dipedulikan, maka dapat dipastikan kegiatan pendidikan
tidak dapat terlaksana dan berjalan dengan baik. Anak didik merupakan orang
yang mempunyai fitrah (potensi) dasar, baik secara fisik maupun psikis, yang
perlu dikembangkan, untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan
pendidikan dari pendidik. Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan
pendidik terhadap anak didik menuju kedewasaannya. Sejauh dan sebesar apapun
bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap
kemungkinan anak didik utuk di didik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami
Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif
Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan filsafat
Pendidikan Islam, (terjemah Ibrahim Husen dari Mabadi’ al Tarbiyahal
islamiyyah), Jakarta: Bulan Bintang,1974.
Fatahiyah Hasan sulaiman, Pemikiran
Al-Ghazali tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1998.
Hamdani Ihsan, Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
[1] Ahmad
Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002) , h. 74-75.
[4] Ahmad
Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu
Memanusiakan Manusia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 170.
No comments:
Post a Comment