Sunday, April 26, 2020

TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PENDIDIK DAN ANAK DIDIK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidik dan peserta didik merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan Islam. Kedua komponen ini saling berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Oleh karena itu, pendidik sangat berperan besar sekaligus menentukan ke mana arah potensi peserta didik yang akan dikembangkan. Demikian pula peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dan Hakikat Pendidik?
2.       Apa Pengertian dan Hakikat Anak Didik?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian dan Hakikat Pendidik.
2.      Mengetahui Pengertian dan Hakikat Anak Didik.


BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian dan Hakikat Pendidik
1.      Pengertian Pendidik
Menurut Ahmad Tafsir, bahwa pendidik dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Sedangkan Abdul Mujib mengemukakan bahwa pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan prilakunya yang buruk.[1]
Secara umum dijelaskan pula oleh Maragustam Siregar, yakni orang yang memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan lain-lain baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah. Di dalam ilmu pendidikan, yang dimaksud pendidik adalah semua yamg mempengaruhi perkembangan seseorang.[2]
Perkembangan tersebut meliputi seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Potensi ini sedemikan rupa dikembangkan secara seimbang sampai mencapai tingkat yang optimal. Sebagai seorang pendidik disini harus memberikan contoh yangg baik agar anak didiknya dengan mudah meniru apa yang dilakukan oleh pendidiknya.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidik dalam Islam adalah orang yang mempunyai tanggung jawab dan mempengaruhi jiwa serta rohani seseorang yakni dari segi pertumbuhan jasmaniah, pengetahuan, keterampilan, serta aspek spiritual dalam upaya perkembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh seseorang tersebut sesuai dengan prinsip dan nilai ajaran Islam sehingga menjadi insan yang berakhlakul karimah.
2.      Hakikat Pendidik
Hakikat pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah barang tentu dan menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain demi kemaslahatan ummat. Hakikat pendidik ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq (96) ayat 1-5 yang artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dalam Al-Qur’an hakikat guru adalah Allah SWT, namun tidak berarti manusia di dunia ini tidak mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi ini, tugas manusia salah satunya adalah mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain, dengan kata lain dia sebagai seorang guru.[3]
Jika ditinjau secara umum pendidik dalam pendidikan Islam kaitannya lebih luas dari pada pendidik dalam pendidikan non-Islam, adapun pendidik dalam pendidikan Islam yaitu:
1.      Allah SWT
2.      Nabi Muhammad SAW
3.      Orang Tua
4.      Guru
Seorang pendidik merupakan manusia pilihan yang bukan hanya memiliki kelebihan ilmu pengtahuan, melainkan juga memiliki tanggung jawab yang berat dalam melakukan tugas dan fungsinya sebagai pendidik yang harus menguasai ilmu dalam mengajar anak didiknya dengan cara yang profesional, sabar dan tertuju pada pencapaian keberhasilan di dunia dan di akhirat. Seorang pendidik harus memiliki syarat-syarat sebagai berkut:
a.       Beriman kepada Allah dan beramal shaleh.
b.      Menjalankan ibadah dengan taat.
c.       Memiliki sikap pengabdian yang tinggi pada dunia pendidikan.
d.      Ikhlas dalam menjalankan tugas pendidikan.
e.       Profesional dalam menjalankan tugasnya.
f.        Menguasai ilmu yang diajarkan kepada anak didiknya.
g.      Tegas dan berwibawa dalam menghadapi masalah yang dialami anak didiknya.
h.      Mampu menggunakan metode mengajar yang bervariasi dan menguasainya dengan baik.
Pendidik merupakan potensi pedagosis yang mengarahkan perkembangan hidup anak didik. Pendidik memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan, karena pendidik adalah pihak yang bersentuhan langsung dengan unsur- unsur yang ada dalam sebuah aktivitas pendidikan, terutama anak didik. Sebagai wujud dari kedudukan yang sangat penting tersebut, fungsi pendidik adalah berupaya untuk mengembangkan segenap potensi anak didiknya, agar memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.[4]
Seorang pendidik harus bisa menguasai situasi dan kondisi agar tidak jenuh dalam berlangsungnya proses pendidikan, maka dari itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Antara lain:
a.       Selalu berbicara dengan bahasa yang santun.
b.      Selalu mendengarkan pendapat anak didiknya.
c.       Mengarahkan dan mengembangkan minat dan bakat anak didiknya.
d.      Berpakaian rapi dan sopan.
e.       Selalu datang tepat waktu.
f.        Memberikan pelajaran dengan metode yang tepat.
g.      Senantiasa memberikan peluang dan kesempatan kepada anak didiknya untuk bertanya.
h.      Sabar dalam menghadapi kenakalan anak didiknya.
i.        Memahami perkembangan mental dan emosional anak didiknya, membimbing, mengarahkan dan memotivasi anak didiknya.
j.        Menciptakan situasi untuk pendidikan. Situasi pendidikan yaitu suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
Adapun peran pendidik dalam menyikapi tantangan globalisasi adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar, dan melatih siswa agar dapat:
a.       Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
b.      Menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan pola pikir dan keyakinan siswa.
c.       Memperkenalkan secara transparan contoh positif dan negatif dari pengaruh iptek kepada anak.
d.      Pendidik selalu mengontrol kepada anak didik dan sekaligus sebagai agent of change dalam menggunakan iptek.
e.       Menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
  1. Pengertian dan Hakikat Anak Didik
1.      Pengertian Anak Didik
Anak didik atau peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan. Peserta didik merupakan “Raw Material” (Bahan Mentah) dalam proses transformasi dan internalisasi, menepati posisi yang sangat penting untuk melihat signifikasinya dalam menemukan keberhasilan sebuah proses. Peserta didik adalah makhluk individu yang mempunyai kepribadian dengan ciri-ciri yang khas yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik sebagai komponen yang tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan sehingga dapat dikatakan bahwa peserta didik merupakan obyek pendidikan tersebut.[5]
Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Jadi secara sederhana peserta didik dapat didefinisikan sebagai individu yang belum memiliki kedewasaan dan memerlukan orang lain untuk mendidiknya sehingga menjadi individu yang dewasa, memiliki jiwa spiritual, aktifitas dan kreatifitas sendiri. Dengan demikian peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk berkembang, dan mereka berusaha mengembangkan potensinya itu melalui proses pendidikan pada jalur dan jenis pendidikan tertentu.
2.      Hakikat Anak Didik
Anak didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan, tanpanya proses pendidikan tidak akan terlaksana. Anak didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan. Karena seorang anak didik yang ingin mendapatkan ilmu itu memerlukan bimbingan, pengarahan, dan petunjuk dari orang lain (seorang pendidik), maka muncul pula etika pergaulan yang baik yang harus dilakukan oleh seorang anak didik kepada pendidiknya.
Potensi merupakan kemampuan dasar yang dimiliki anak didik, dan tidak akan tumbuh atau berkembang secara optimal tanpa bimbingan pendidik. Dalam memahami hakikat anak didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum anak didik, yaitu:
a.       Anak didik dalam keadaan sedang berdaya (eksploratif), yaitu berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan dan sebagainya.
b.      Mempunyai keinginan untuk berkembang kea rah dewasa.
c.       Anak didik mempunyai latar belakang yang berbeda.
d.      Anak didik melakukan penjelajahan terhadap lingkungan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu. (Abdurrahman Shaleh, 1981:86).
Asma Hsan Fahmi menyebutkan empat akhlak yang harus dimiliki anak didik, yaitu;
1.      Seorang anak didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa yang sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah merupakan ibadah yang tidah sah dikerjakan kecuali dengan hati yang bersih. Kebersihan hati tersebut dapat dilakukan dengan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela, seperti dengki, benci, hassut, takabbur, menipu, berbangga-bangga, dan memuji diri yang selanjutnya diikiuti dengan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia seperti bersikap benar, taqwa, ikhlas zuhud, merendahkan diri dan ridha.
2.      Seorang anak didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri kepada tuahn, dan bukan untuk mencari kemegahan dan kedudukan.
3.      Seorang pelajar harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan bersedia pergi merantau. Selanjutnya apabila ia menghendaki pergi ke tempat yang jauh untuk memperoleh seorang guru, maka ia tidak boleh ragu-ragu untuk itu. Demikian pula ia dinasihatkan agar tidak sering menukar-nukar guru. Jika keadan menghendaki sebaiknya ia dapat menanti sampai dua bulan sebelum menukar seorang guru.
4.      Seorang pelajar wajib menghoramati guru dan berusaha agar senantiasa memperoleh kerelaan dari guru, dengan mempergunakan bermacam-macam cara.
Sejalan dengan tujuan pendidikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka belajar termasuk ibadah. Dengan dasar pemikiran ini, maka Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa seorang murid yang baik, adalah murid yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Seorang murid harus berjiwa bersih, terhindar dari budi pekerti yang hina dan sifat-sifat yang tercela lainnya.
b.      Seorang murid yang baik, juga harus menjauhkan diri dari persoalan-persoalan duniawi, mengurangi keterkaitan dengan dunia, karena keterkaitan kepada dunia dan masalah-masalahnya dapat mengganggu lancarnya pengusaan ilmu.
c.       Seorang murid yang baik hendaknya bersikap rendah hati dan tawadhu. Sikapini begitu ditekankan oleh Al-Ghozali.
d.      Khusus terhadap murid yang baru hendaknya jangan mempelajari ilmu-ilmu yang saling berlawanan, atau pendapat yang saling berlawanan atau bertentangan.
e.       Seorang murid yang baik hendaknya mendahulukan mempelajari yang wajib. Pengetahuan yang menyangkut berbagai segi (aspek) lebih baik daripada pengetahuan yang menyangkut hanya satu segi saja.
f.        Seorang murid yang baik hendaknya mempelajari ilmu secara bertahap. Seorang murid dinasehatkan agar tidak mendalamiilmu secara sekaligus, tetapi memulai dariilmu-ilmu agama dan menguasainya dengan sempurna.
g.      Seorang murid hendaknya tidak mempelajari satu disiplin ilmu sebelum mengusai disiplin ilmu sebelumnya.
h.      Seorang murid hendaknya juga mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajarinya. Kelebihan dari masing-masing ilmu serta hhasil-hasilnya yang mungkin dicapai hendaknya dipelajarinya dengan baik.
Beberapa hal yang perlu dipahami mengenai karakteristik peserta didik adalah:
1.      Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan orang dewasa. Orang dewasa tidak patut mengeksploitasi dunia peserta didik, dengan mematuhi segala aturan dan keinginannya, sehingga peserta didik kehilangan dunianya.
2.      Peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin. Terdapat lima hierarki kebutuhan yang dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu: pertama, kebutuhan-kebutuhan tahap dasar (basic needs) yang meliputi kebutuhan fisik, rasa aman dan terjamin, cinta dan ikut memiliki (sosial), dan harga diri; kedua,  metakebutuhan-metakebutuhan (meta needs), meliputi apa saja yang terkandung dalam aktualisasi diri, seperti keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatuan, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, masih ada kebutuhan lan yang tidak terjangkau kelima hierarki kebutuhan itu, yaitu kebutuhan akan transendensi kepada Tuhan. Individu yang melakukan ibadah sesungguhnya tidak dapat dijelaskan dengan kelima hierarki kebutuhan tersebut, sebab akhir dari aktivitasnya hanyalah keikhlasan dan ridha dari Allah SWT.
3.      Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari factor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat, dan lingkungan yang mempengaruhinya. Pesrta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia. Sesuai dengan hakikat manusia, peserta didik sebagai makhlukmonopluralis, maka pribadi peserta didik walaupun terdiri dari dari banyak segi, merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan karsa).
4.      Peserta didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif, serta produktif. Setiap peserta didik memiliki aktivitas sendiri (swadaya) dan kreatifitas sendiri (daya cipta), sehingga dalam pendidikan tidak hanya memandang anak sebagai objek pasif yang bisanya hanya menerima, mendengarkan saja.
5.      Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dalam mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola dan tempo, serta irama perkembangan peseta didik. Kadar kemampuan peserta didik sangat ditentukan oleh usia dan priode perkembangannya, karena usia itu bisa menentukan tingkat pengetahuan, intelektual, emosi, bakat, minat peserta didik, baik dilihat dari dimensi biologis, psikologis, maupun dedaktis.
Sifat-sifat ideal yang patut dimiliki peserta didik yaitu:
1.      Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Mempunyai ahklak yang baik dan meninggalkan yang buruk.
2.      Mengurangi kecendrungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi dan sebaliknya.
3.      Bersifat tawadhu’ (rendah hati).
4.      Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan dan aliran.
5.      Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu umum dan agama.
6.      Belajar secara bertahap atau berjenjang dengan melalui pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang lebih sulit.
7.      Mempelajari ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih kepada ilmu yang lainnya.
8.      Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari
9.      Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
Dari penjelasan-penjelasan diatas menerangkan bahwa pada hakikatnya anak didik merupakan komponen penting dalam pendidikan, karena selain menjadi objek, anak didik juga merupakan subjek dalam pendidikan. Oleh sebab itu proses pembelajaran atau pendidikan tidak akan terlaksana tanpa adanya anak didik. Dan merupakan keharusan untuk memahami sifat dan karakter anak didik supaya dalam proses pendidikan akan berjalan sesuai harapan dan dapat tercapainya tujuan dari pendidikan yang diinginkan.


BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
1.      Pendidik merupakan seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tertentu dan mengajarkannya kepada orang lain atau anak didik, dan juga merupakan orang yang mempunyai tanggung jawab dan mempengaruhi jiwa serta rohani seseorang yakni dari segi pertumbuhan jasmaniah, pengetahuan, keterampilan, serta aspek spiritual dalam upaya perkembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh seseorang tersebut sesuai dengan prinsip dan nilai ajaran Islam sehingga menjadi insan yang berakhlakul karimah.
2.      Anak didik merupakan salah satu unsur terpenting bagi terlaksananya kegiatan pendidikan. Sebab ia merupakan obyek dan sekaligus subyek serta mitra pendidikan, sehingga sehebat dan selengkap apapun unsur-unsur lainnya, jika anak didik tidak ada atau tidak dipedulikan, maka dapat dipastikan kegiatan pendidikan tidak dapat terlaksana dan berjalan dengan baik. Anak didik merupakan orang yang mempunyai fitrah (potensi) dasar, baik secara fisik maupun psikis, yang perlu dikembangkan, untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan pendidikan dari pendidik. Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap anak didik menuju kedewasaannya. Sejauh dan sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan anak didik utuk di didik.

DAFTAR  PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan filsafat Pendidikan Islam, (terjemah Ibrahim Husen dari Mabadi’ al Tarbiyahal islamiyyah), Jakarta: Bulan Bintang,1974.
Fatahiyah Hasan sulaiman, Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1998.
Hamdani Ihsan, Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998.



[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) , h. 74-75.
[2] Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008), h. 88.
[3] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sunan Kalijaga, 2010), h. 169.
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 170.
[5] Abdul Mujib. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008), h. 88.

Prinsip-prinsip Metodologi Pengajaran Bahasa Arab


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampil, dan kecermatan, karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan professional.[1]
Metode adalah rencana menyeluruh penyajian bahasa secara sistematis berdasarkan pendekatan-pendekatan yang ditentukan.[2] Metode adalah rencana menyeluruh yang berkenaan dengan penyajian materi bahasa secara teratur, tidak ada satu bagian yang bertentangan dengan yang lain dan semuanya berdasarkan atas approach yang telah dipilih.[3]
Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tidak didasari dengan pengetahuan yang memadahi tentang metode itu, sehingga metode bisa saja sebagai penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen penunjang pencapaian tujuan jika tidak tepat aplikasinya.[4]
Disini penulis akan menerangkan tentang pengertian dari metodologi pengajaran Bahasa Arab, tujuan, sasaran dan fungsi pengajaran Bahasa Arab serta prinsip-prinsip metodologi pengajaran Bahasa Arab. Karena penulis merasa keempat pembahasan tersebut sangat penting sehingga pengajaran Bahasa arab bisa tercapai sebagaimana yang diingikan oleh pengajar (guru). Selain itu mengetahui tentang keempat pembahasan tersebut akan menambah wawasan tentang metodologi pengajaran Bahasa Arab sehingga metode tidak akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran.

B.     Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian dari metodologi pengajaran bahasa Arab?
  2. Apa tujuan dari metodologi pengajaran bahasa Arab?
  3. Apa sasaran dan fungsi metodologi pengajaran bahasa Arab?
  4. Bagaimana prinsip-prinsip metodologi pengajaran bahasa Arab?
C.    Tujuan Pembahasan
  1. Untuk mengetahui apa pengertian dari metodologi pengajaran bahasa Arab.
  2. Untuk mengetahui apa tujuan dari metodologi pengajaran bahasa Arab.
  3. Untuk mengetahui apa sasaran dan fungsi metodologi pengajaran bahasa Arab.
  4. Untuk mengetahui bagaimana prinsip-prinsip metodologi pengajaran bahasa Arab.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Secara etimologi istilah metodologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata Metodos yang berarti cara atau jalan, dan Logos artinya ilmu. Sedangkan secara semantik, metodologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien.[5]
Menurut Tayar Yusuf metodologi searti dengan kata metodik (methodentic) yaitu suatu penyelidikan yang sistematis dan formulasi metode yang akan digunakan dalam penelitian. Dengan kata lain metodologi adalah: ilmu tentang metode-metode yang mengkaji/membahas mengenai bermacam-macam metode mengajar, tentang keunggulannya, kelemahannya, lebih tepat/serasi untuk penyajian pelajaran apa, bagaimana, penerapannya dan sebagainya.[6]
Menurut Jhos Daniel maksud Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab adalah: cara atau jalan yang ditempuh bagaimana menyajikan bahan-bahan pelajaran dan bahasa arab. Agar mudah diterima, diserap dan dikuasai anak didik dengan baik dan menyenangkan.[7]
Dari beberapa pendapat diatas dapat kita simpulkan pengertian dari Metodologi Pengajaran Bahasa Arab ialah sistem atau cara yang digunakan oleh pengajar ketika mengajar agar pelajaran atau materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik sehingga pengajaran Bahasa Arab bisa berhasil sesuai yang diinginkan oleh pengajar.

B.     Tujuan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Menurut Conny R. Semiawan tujuan dan fungsi dari pengajaran bahasa Arab ialah membentuk pengertian yang berarti mengajarkan perkataan-perkataan baru dengan artinya sekaligus kepada anak-anak. Oleh karena itu, pada saat anak belajar membaca permulaan, jangan mulai menghafal huruf tetapi mulai dari pola kalimat sederhana. Biasakan anak mendengar, membaca, dan menuliskan arti.[8]
Menurut Najieb Taufiq tujuan dan fungsi dari pengajaran bahasa Arab ialah mangajar  agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan benar dengan sesamanya dan lingkungannya, baik secara lisan maupun tulisan. Tujuan pengajaran bahasa adalah untuk menguasasi ilmu bahasa dan kemahiran berbahasa arab, seperti muthala’ah, muhadatsah, insya’; nahwu dan sharaf, sehingga memperoleh kemahiran berbahasa yang meliputi empat aspek kemahiran, yaitu: kemahiran menyimak, kemahiran membaca, kemahiran menulis, dan kemahiran berbicara. Menyimak merupakan proses perubahan wujud bunyi (bahasa) menjadi wujud makna. Kemahiran menyimak sebagai kemahiran berbahasa yang sifatnya reseptif, menerima informasi dari orang lain (pembicara). Kemahiran membaca merupakan kemahiran berbahasa yang sifatnya. reseptif, menerima informasi dari orang lain (penulis) di dalam bentuk tulisan. Membaca merupakan perubahan wujud tulisan menjadi wujud makna.
Kemahiran menulis merupakan kemahiran bahasa yang sifatnya yang menghasilkan atau memberikan informasi kepada orang lain (pembaca) di dalam bentuk tulisan. Menulis merupakanperubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud tulisan. Sedangkan kemahiran berbicara merupakan kemahiran yang sifatnya produktif, menghasilkan atau menyampaikan informasi kepada orang lain (penyimak) di dalam bentuk bunyi bahasa (tuturan)
Tujuan telaah bahasa asing adalah mempelajari sesuatu bahasa agar dapat membaca susastranya atau agar dapat menarik keuntungan dari disiplin mental dan perkembangan intelektual yang timbul dari telaah bahasa asing itu. Terjemahan tata bahasa adalah suatu cara menelaah bahasa yang mendekati bahasa tersebut pertama-tama melalui kaidah-kaidah tata bahasanya secara terperinci, diikuti oleh penerapan pengetahuan ini pada tugas penerjemahan kalimat-kalimat dan teks-teks ke dalam dan dari bahasa sasaran. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dipandang sebagai yang terdiri dari upaya yang melebihi serta memenipulasi morfaologi dan sintaksis bahasa asing tersebut. Bahasa pertama diperlakukan sebagai sistem acuan dalam pemerolehan bahasa kedua.
Departemen Agama menjelaskan bahwa tujuan umum pembelajaran bahasa Arab adalah:
  1. untuk dapat memahami al-Quran dan hadist sebagai sumber hukum ajaran Islam
  2. untuk dapat memahami buku-buku agama dan kebudayaan islam yang ditulis dalam bahasa Arab
  3. untuk dapat berbicara dan mengarang dalam bahasa Arab
  4. untuk dapat digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary)
  5. untuk membina ahli bahasa arab, yakni benar-benar profesional.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dan fungsi pengajaran bahasa Arab ialah mengajar peserta didik agar mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan maupun tulisan dengan baik dan dapat memahami isi Alqur’an dan hadist sebagai sumber hukum didalam Islam.

C.    Sasaran dan Fungsi Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Ketika suatu sistem pengajaran atau pun sistem belajar mengajar menerapkan atau pun membuat silabus metodologi pengajaran dalam suatu bidang studi, tentunya setiap metode pasti memiliki sasaran yang akan di capai berhubungan dengan metode itu sendiri. Begitupun dengan metodologi pengajaran bahasa arab. Sasaran setiap metodologi pengajaran adalah peserta didik terhadap pencapaian indikator suatu bidang studi. Dengan kata lain, sasarannya adalah hasil yang di peroleh peserta didik setelah mempelajari dan memahami bidang studi yang di ajarkan dengan berbagai metode pembelajaran. Seperti contoh metodologi pengajaran bahasa arab di bawah ini.[9]

No
Metode
Pengajaran
bahasa arab
                                Sasaran
1.
Sistem
pembelajaran keterampilan kitabah
a.      peserta didik memahami struktur tulisan setiap huruf arab
b.     peserta didik memahami setiap perubahan karakter tulisan setiap huruf arab
c.      peserta didik memahami tanda baca huruf arab
d.     peserta didik mampu menulis kata demi kata yang penah di lihat
e.      peserta didik mampu menulis kata yang di dengar
2.
Sistem
pembelajaran keterampilan qira’ah
a.       mampu membaca dengan fasih
b.      mampu melihat “benang merah” antara makna dan lafadz
c.       mampu menangkap pola pikiran dalam tulisan
d.      mampu melihat kelebihan kelebihan dan kekurangan sebuah ungkapan
e.       mampu memahami sistematika tulisan dan logika yang terkandung
3.
Tata bahasa dan terjemah
a.       menghasilkan siswa yang terbaik, terlatih, akan pengetahuan kebudayaan sastra yang tinggi dan mempunyai daya apresiasi sastra.
b.      Menghasilkan siswa yang hafal materi-materi nahwu dan sharaf.
c.       Menghasilkan siswa yang berkompeten untuk menterjemahkansecara bebas ke bahasa induk ke bahasa sasaran.

D.    Prinsip-prinsip Metodologi Pengajaran Bahasa Arab
Menurut Yayat Hidayat ada tiga prinsip dasar dalam  pengajaran bahasa Arab, yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap penghayatan serta korelasi dan isi.

  1.  Prinsip Prioritas
Dalam pembelajaran bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran , yaitu pertama; mengajarkan, mendengarkan, bercakap sebelum menulis. Kedua; mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga; menggunakan kata-kata yang akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penuturan bahasa Arab

2.   Prinsip Korektisitas (الدقة)
Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi الأصوات (fonetik), التراكب (sintaksis), dan المعانى  (semiotic). Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama, korektisitas dalam pengajaran (fonetik). Kedua, korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). Ketiga, korektisitas dalam pengajaran (semiotic).
a.       Korektisitas dalam pengajaran fonetik Pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu, maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik.
b.      Korektisitas dalam pengajaran sintaksis Perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek), tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja فعل)).
c.       Korektisitas dalam pengajaran semiotik Dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. Tetapi, dalam bahasa Arab, hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu, yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu, guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk.

  1. Prinsip Berjenjang ( التدرج )
Jika dilihat dari sifatnya, ada 3 kategori prinsip berjenjang, yaitu: pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Metodologi pengajaran bahasa Arab ialah sistem atau cara yang digunakan oleh pengajar ketika mengajar agar pelajaran atau materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik. Adapun metode yang dapat digunakan oleh pengajar yaitu:
  1. Metode tata bahasa
  2. Metode tarjamah
  3. Metode tata bahasa dan tarjamah
Tujuan dan fungsi dari pengajaran bahasa Arab itu sendiri yaitu mengajar peserta agar mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab dengan baik dan benar baik dalam lisan maupun tulisan.
Prinsip-prinsip pengajaran bahasa arab ialah :
  1. Prinsip prioritas dalam proses penyajian
  2. Prinsip koreksitas dan umpan balik
  3. Prinsip bertahap penghayatan serta korelasi dan isi.

B.     Saran
Dalam proses belajar dan mengajar sebaiknya pengajar menggunakan metode-metode yang baik agar peserta didik dapat memahami materi pelajaran dengan baik. Dan peserta didik harus memperhatikan ketika pengajar memberikan materi agar terciptanya proses belajar dan mengajar yang baik pula.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Cet III, (Malang: Misykat, 2005)
Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung: Humaniora, 2009)
Ahmad Mutadi Anshor, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya, (Yogyakarta: Teras, 2009)
Azhar Aryad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)
Conny  R. Semiawan, Keterampilan Proses, (Jakarta: Gramedia, 1984)
Jos Daniel Parera,  Linguistik Edukasional, ( Jakarta: Erlangga, 1994)
Tayar Yusuf, Metodologi Pembelajaran, ( Jakarta :Gramedia, 2009)


[1]Ahmad Mutadi Anshor, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 53
[2]Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Cet III, (Malang: Misykat, 2005), h. 6
[3]Azhar Aryad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 19
[4]Ahmad Mutadi Anshor, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya. . . . h. 53
[5] Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung: Humaniora, 2009), h.72
[6] Tayar Yusuf, Metodologi Pembelajaran, ( Jakarta :Gramedia, 2009), h. 176
[7] Jos Daniel Parera,  Linguistik Edukasional, ( Jakarta: Erlangga, 1994), h. 63
[8]Conny  R. Semiawan, Keterampilan Proses, (Jakarta: Gramedia, 1984), h. 10
[9] Ibid. h 20-22